Pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tetapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita pakai. Kepahitan itu, selalu berasal dari bagaimana cara kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kita merasakan kepahitan atau kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang boleh kita lakukan: Lapangkanlah dada kita untuk menerima semuanya. Luaskanlah hati kita untuk menampung setiap kepahitan itu. Luaskan cara pandang terhadap kehidupan. Kita akan banyak belajar dari keluasan itu. Hati , adalah wadah itu. Batin adalah tempat menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hati itu seperti gelas, buatlah hati seluas telaga yang mampu meredam setiap kepahitan. Hati yang seluas dunia
dalam diri manuasia ada segumpal daging, di mana daging tersebut baik maka baiklah segala amalannya, man arrofa nafsahu faqod arrofa rabbahu..berawal dari situlah segalanya, dimana a'inul bashiro tlah terbuka tak akan ada lagi yang samar segalanya akan nyata,..tapi sangatlah sulit dan teramat sulit untuk mengungkapnya bukanlah suatu pekerjaan yang gampang untuk mengurus bathin, membersihkan hati..wassalam
dalam diri manuasia ada segumpal daging, di mana daging tersebut baik maka baiklah segala amalannya, man arrofa nafsahu faqod arrofa rabbahu..berawal dari situlah segalanya, dimana a'inul bashiro tlah terbuka tak akan ada lagi yang samar segalanya akan nyata,..tapi sangatlah sulit dan teramat sulit untuk mengungkapnya bukanlah suatu pekerjaan yang gampang untuk mengurus bathin, membersihkan hati..wassalam