Monday, September 12, 2005
...Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Menjadi Milik Kita...
dalam perjalanan hidup ini sering kali kita merasa kecewa,sesuatu yang luput dari genggaman,keinginan yang tidak tercapai,kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, akhirnya angan-angan ini lelah dengan berandai-andai ria, sungguh semua itu tlah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora didalam jiwa.


dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran.masih ada kekuatan untuk melangkah kaki menuju majlis-majlis ilmu,majelis-majelis dzikir yang akan mengantarkan dalam ketentraman jiwa.


hidup ini ibarat belantara.tempat kita mengejar berbagai keinginan. dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak,mempunyai keinginan.tetapi tidak setiap yang kita inginkan tidak terbukti,tidak bisa setiap yang kita mau bisa tercapai.dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi.banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses,harus bahagia atau harus-harus yang lain.


betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah SWT,hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang.begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar.padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita.padahal hakekatnya kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.


apa yang memang menjadi jatah kita di dunia,entah itu rizki, jabatan, kedudukan pasti akan Allah sampaikan. tetapi apa yang memang bukan menjadi milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.


"Tiada suatu bencanapun yang menimpa dibumi ini dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam (Lauh Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi ALLAH. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan NYa kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS.Al-Hadid;22-23)


demikian juga yang sedang galau terhadap jodoh. kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita,bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah: harus dia Ya Allah...harus dia,karena aku sangat mencintainya. seakan kita jadi yang menentukan segalanya,kita meminta dengan paksa.dan akhirnya walaupun Allah SWT memberikannya maka tak selalu itu yang terbaik. bisa jadi Allah SWT tak mengulurkannya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkanya dengan marah karena niat kita yang terkotori.


"...boleh jadi kalian membenci sesuatu,p padahal ia amat baik bagi kalian. dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui kalian tidak mengetahui." (QS.Al-Baqarah; 216)


maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang rasa kita perlu didunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia diakhirat. karena seorang mukmin tidak hidup untuk didunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup diakhirat kelak.jangan tangisi apa yang bukan menjadi milik kita....
posted by kartina @ 1:05 AM   14 comments
Tuesday, September 06, 2005
...CiNtA...
Jiwa orang yang cinta selalu memperhatikan yang dicintainya dan hatinya terasa hancur karena kecintaannya. Kebanggaan orang yang dimabuk cinta ialah apabila malam hari yang dilaluinya hanya bersama dengan yang dicintainya, tempat ia mengadu dan mencurahkan isi hatinya. Dia berdiri dimihrab mengadukan kesusahannya sedang hatinya penuh gelora cinta.
Aku mati karena penyakitku yang tidak kutemukan obat untuknya dan pula tidak ada jalan keluar dari musibah yang menimpaku. Apabila penyakit seseorang hamba adalah cinta kepada yang merajainya maka tiada seorang tabib pun yang dapat mengobatinya selain Dia.
Aku merasa puas dengan Tuhanku sebagai pengganti dan penghibur dari segala sesuatu yang tidak aku inginkan selain Dia. Betapa rindu hati ini kepada penguasa yang selalu melihatku dalam semua gerak-gerikku sedang aku tidak dapat melihat-Nya.
posted by kartina @ 1:11 PM   14 comments
Sunday, September 04, 2005
The Power of Reward
Ada kisah nyata seorang penyanyi terkenal di Eropa, seorang wanita yang memiliki suara yang bagus sekali. Wanita ini bersuamikan pemain musik,pemain keyboard, dan seorang pengarang lagu. Begitu pandainya sang suamiini tentang lagu, nada, birama, tangga nada dan hal-hal lain di bidang musik semacam itu, sehingga dia selalu menemukan apa yang harus dikoreksi ketika isterinya menyanyi.

Kalau isterinya menyanyi selalu saja ada komentar dan kritik seperti; bagian depan kurang tinggi, lain kali dia berkata bagian ini kurang pelan,lain kali dia berkata bagian akhir harusnya "kres"..naik sedikit,dsb..selalu saja ada komentar pedas yang dia lontarkan kalau isterinya menyanyi dan bersenandung. Akhirnya sang wanita malas menyanyi. Dia berkeputusan...wah gak usah nyanyi aja deh, apa aja salah terus, nyanyiapa aja ada yang kurang. Enggak usah nyanyi kalau nyanyi kadang malah bertengkar...

Singkat cerita, karena suatu musibah, sang suami meninggal dan lama setelah itu si wanita menikah lagi dengan seorang tukang ledeng. Tukangledeng ini tidak tahu menahu soal musik. Yang ia tahu isterinya bersuara bagus dan dia selalu memuji isterinya kalau bernyanyi.

Suatu ketika isterinya bertanya: "Pak, bagaimana laguku pa?" dan diaberkata kepada isterinya: "Ma...saya ini selalu ingin cepat pulang karenamau dengar engkau menyanyi, ma!!" Lain kali dia berkata,"Ma..kalau saya tidak menikah dengan engkau, mungkin saya sudah tuli kali ma..., karena bunyi dentuman, bunyi gergaji, bunyi cericit drat pipa ledeng, gesekanpipa ledeng dan bunyi pipa lainnya yang saya dengar sepanjang hari kalausaya bekerja....Sebelum saya menikah denganmu ma...saya sering mimpi dan terngiang2 suara2 gergaji dll yang tidak mengenakkan itu ketika tidur.

Sekarang setelah menikah dan sering mendengar engkau menyani...lagumu lah yang terngiang2..." Istrinya sangat bersuka cita, tersanjung merasa diterima dengan pujian yang diterimanya dan membuat dia gemar bernyanyi, bernyanyi dan bernyanyi...Mandi dia bernyanyi, masak dia bernyanyi dan tanpa disadarinya dia berlatih, berlatih dan berlatih. Suaminya mendorong hingga dia mulai merekam dan mengeluarkan kaset volume pertama dan ternyata disambut baik oleh masyarakat.

Wanita ini akhirnya menjadi penyanyi terkenal, dan dia terkenal bukan pada saat suaminya ahli musik, tetapi saat suaminya seorang tukang ledeng, yang memberinya sedikit demi sedikit pujian ketika dia menyanyi. Sedikit pujian memberikan penerimaan...sedikit pujian memberikan rasa diterima...memberikan dorongan...semangat dan dorongan untuk melakukan halyang baik dan lebih baik lagi. Sedikit pujian dapat membuat seseorang bisa meraih prestasi tertinggi yang bisa diraihnya. Omelan, bentakan, kecaman, amarah atau kritik yang tidak membangun tidak banyak merubah...Karena itu marilah kita saling memberikan sedikit pujian satu dengan yang lain.
posted by kartina @ 7:44 AM   8 comments
Saturday, August 27, 2005
...MEMBERESKAN KEGADUHAN SEHABIS AFFAIR...
Affair memang harus dibayar sangat mahal. Penyelesaiannya pun tidak cukup dengan kata maaf
Pestanya sih oke, tapi...beresin piring kotornya yang bikin repot. Ungkapan tersebut rasanya tepat dianalogikan dengan affair. Saat menjalaninya sih pasti happy, tapi membereskan kegaduhannya jelas bikin pusing. Pada prinsipnya, tak ada perselingkuhan yang sekadar iseng-iseng berhadiah. Setiap perselingkuhan pasti didasari "kehausan" akan sesuatu yang berusaha dipenuhinya dengan cara yang tidak semestinya dan tidak pada tempatnya. Padahal kehausan/kebutuhan itu sendiri pun sebenarnya bukan kebutuhan yang bersumber dari masa lalu yang tidak terpenuhi, namun terus diusahakan supaya terpenuhi.
Ironisnya, alasan khilaf dengan mudah dijadikan kambing hitam. Padahal secara psikologis alasan khilaf dalam perkara ini tidak bisa begitu saja diterima. Bukankah saat melakukannya yang bersangkutan punya akal sehat yang memungkinkannya bisa berpikir logis, jernih, rasional, objektif, selain mampu mendengar suara nurani? Dengan kata lain, si "khilaf" sebagai kambing hitam tak akan muncul karena pengendalian diri manusia pada dasarnya jauh lebih kuat daripada kemungkinan munculnya khilaf.

Tidak ada affair yang bisa berakhir tanpa niat. Kondisi ini menuntut kesungguhan yang kuat dibarengi tindakan tegas pelaku. niat saja tidak akan pernah cukup untuk memutus mata rantai yang memabukkan itu. Sikap mengambang, antara ya dan tidak untuk menghentikan affair, antara ingin kembali membangun keutuhan keluarga sekaligus tidak ingin kehilangan kenikmatan sesaat dari affair tersebut justru akan membuat kegaduhan makin panjang, lebar kian mendalam.
Sikap ambivalen seperti itu tentu hanya menyulut perang kekuatan antara kedua belah pihak jadi semakin berkobar. Antara suami/istri dengan sang kekasih maupun antara luka hati suami/istri yang jadi korban bersama anak-anak mereka. Sementara makin lama "racun" tersebut akan terus menyebar dan merasuki kehidupan keluarga. Tak heran kalau affair kemudian menimbulkan atmosfir depresi, kemarahan dan ketidakpercayaan. Buntutnya, tidak ada lagi kebahagiaan dalam rumah tangga, selain suburnya perasaan sakit hati, kecurigaan dan prasangka.
Untuk membereskannya, langkah-langkah berupa tindakan konkret berikut mau tidak mau memang harus diambil.
* Jujur terhadap diri sendiri
Pelaku affair harus jujur terhadap diri sendiri sebelum membuka masalah ini pada suami/istri. Termasuk mengatakan apa alasan sesungguhnya sampai ia tega melukai hati pasangannya. Apakah itu merupakan kebutuhan untuk diakui kehebatannya, keinginan menjadi "pahlawan" sebagai kompensasi dari inferioritasnya, butuh perhatian istimewa seperti dalam dongeng/sinetron (fantasy about marriage) yang tidak didapatkannya, ataukah orientasi pada uang/materi/gaya hidup yang tidak diperolehnya terkait dengan keterbatasan keluarganya.
* Terus terang
Setelah yakin dengan alasan perselingkuhan, berterus teranglah pada keluarga. Dengan berani berkata jujur, membuka sekaligus menelanjangi kebobrokannya sendiri, diharapkan bisa menjadi langkah awal bagi self-healing yang bersangkutan untuk memulai perjalanan berdamai dengan diri sendiri. Jadi, jangan terlalu mengharapkan belas kasih dan maaf dari keluarga. Ingat, siapa pun tidak akan mudah memaafkan bentuk pengkhianatan seperti ini. Yang terpenting, berusaha jujur untuk mengakui kesalahan sembari berupaya menghentikannya.
* Jalani proses
Dalam proses rekonsiliasi, pastikan tidak ada lagi seulas benang tipis pun yang menghubungkan pelaku dengan pasangan selingkuhnya. Entah itu kesempatan bertemu, saling berkirim SMS, saling menelepon, mengirim/menerima bingkisan dan sejenisnya. Yakinkan diri bahwa hubungan perselingkuhan adalah hubungan manipulatif dan saling memanfaatkan. Ingat, tidak pernah ada relasi sejati dalam hubungan perselingkuhan.
* Kesungguhan pasti membuahkan hasil
Jangan putus asa bila jalan menuju pintu maaf terlihat tak berujung. Yakinlah bahwa dengan kesungguhan dan ketulusan hati, sedikit demi sedikit hati suami/istri akan luluh juga. Tapi ingat, jangan pernah sekalipun mengulang jalan yang sama apalagi sampai terperosok untuk kedua, ketiga dan kesekian kalinya.

Meski si pelaku bisa didera rasa bersalah yang berkepanjangan, namun bebannya pastilah tidak seberat dan sepahit yang dirasakan korban. Setidaknya ada 3 alasan kuat mengapa pernikahan yang sudah ternoda affair perlu dipertahankan:
1. Anak
2. Keyakinan
3. Niat dan keinginan
Memaafkan boleh jadi akan diberikan, tapi bagaimana dengan melupakan? Sepertinya mustahil. Melupakan bukanlah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana semacam ini. Sementara "memahami" mungkin lebih cocok. Dengan mencoba memahami masalah ini, maka luka hati tidak akan terus bernanah, meski luka itu tetap bercokol di tempatnya sampai kapan pun. Kemampuan memahami ini pula yang akan mendorong sang suami/istri bisa melihat masalah ini dalam konteks kesejarahan. Contohnya, melihat affair sebagai mata rantai sebab-akibat secara logis dan rasional.
Yakinkan diri sendiri dan pasangan bahwa tidak ada hubungan yang lebih indah dan berkah kecuali hubungan yang terikat dalam pernikahan.
posted by kartina @ 1:34 AM   20 comments
Friday, August 26, 2005
...MeNiKaH...
Benarkah menikah didasari oleh kecocokan?Kalau dua-duanya suka musik, berarti ada gejala bisa langgeng.. Kalau sama-sama suka sop buntut berarti masa depan cerah...(That simple?........)
Berbeda dengan sepasang sandal yang hanya punya aspek kiri dan kanan, menikah adalah persatuan dua manusia, pria dan wanita. Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya.
Kecocokan, minat dan latar belakang keluarga bukan jaminan segalanya akan lancar.. Lalu apa? MENIKAH adalah proses pendewasaan.Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani. Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya.
Kedengarannya sih indah, tapi kenyataannya?Harus ada 'Komunikasi Dua Arah', 'Ada kerelaan mendengar kritik', 'Ada keikhlasan meminta maaf', 'Ada ketulusan melupakan kesalahan,dan Keberanian untuk mengemukakan pendapat'.
Sekali lagi MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan.
MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuh, ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil
MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan dimana kemesraan, ciuman, dan pelukan yang berkepanjangan hanyalah bunga.Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang hartanya berapa, bukanlah rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan, bukanlah perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya membuat keluarga saling tersinggung, apalagi kegemaran minum kopi yang sama...
MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan anda. Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami oranglain...?? Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa memperhatikan pasangan hidup...??
MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudra,serta jiwa besar untuk 'Menerima' dan 'Memaafkan'.
Kesalahan terbesar kita dalam memilih pasangan adalah kita lebih mementingkan dengan siapa kita menikah bukan seperti apa orang yang akan kita nikahi. Kita lebih melihat dari fisik orang tersebut bukan kualitas orang tersebut
posted by kartina @ 12:08 AM   17 comments
Search

about me
Name : Kartina
Location : Indonesia
I'm only an ordinary girl in a ordinary world,
Udah Lewat
Archives
Music Theme

sutbok
Links
Digest

Desain
Visit Me Klik It
Credite
15n41n1
Counter
You're visitor No:
Mesothelioma
Today

Powered By

Powered by Blogger